Rabu, 03 April 2013

Client- Centered Therapy



Terapi Client-Centered atau Person-Centered di cetuskan oleh Carl Ransom Rogers (1902-1987) dengan sebutan nondirective counseling. Rogers (sebagai terapis) meminimalkan pengarahannya dan membantu kliennya memperjelas persepsi mereka mengenai diri sendiri. Rogers meneliti tentang persepsi klien terhadap self-aktual dan self-idealnya. Reflection of feelings adalah teknik yang dilakukan terapis dalam  memposisikan dirinya sebagai cermin bagi klien, agar klien dapat lebih mengenal dirinya, menerima diri sendiri, dan kemudian dapat mempersepsikan keadaannya sekarang (Sundberg et al, 2002).

Ciri-ciri Client-Centered Therapy
1.        Perhatian diarahkan kepada pribadi klien dan bukan kepada masalahnya. Tujuannya bukan memecahkan suatu masalah tertentu tetapi membantu seseorang untuk tumbuh sehingga ia bisa mengatasi masalah baik masalah sekarng maupun masalah yang akan datang dengan cara yang lebih baik dan lebih tepat.

2.        Hal yang kedua ialah penekanan lebih banyak terhadap faktor emosi daripada terhadap faktor intelektual. Dalam kenyataannya, banyak perbuatan yang dipengaruhi oleh emosi daripada oleh pikiran artinya seseorang bisa mengerathui bahwa suatu perbuatan sebenarnya tidak baikjadi secara rasional, intelektual, ia mengetahui itu dan tahu pula bahwa ia tidak boleh melakukan itu namun kenyataannya lain.

3.        Hal yang ketiga memberikan tekanan yang lebih besar terhadap keadaan yang ada sekarang daripada terhadap apa yang sudah lewat atau terjadi.

4.        Hal yang keempat ialah penekanan hubungan terapuetik itu sendiri sebagai tumbuhnya pengalaman. Di sini seseorang belajar memahami diri sendiri, membuat keputusan yang penting dengan bebas dan bisa sukses berhubungan dengan orang lain secara dewasa.

5.        Proses terapi merupakan penyelarasian antara gambaran diri klien dengan keadaan dan pengalaman diri yang sesungguhnya

6.        Klien memegang peranan aktif dalam konseling sedangkan konselor bersifat pasif-reflektif.

Tujuan Client-Centered Therapy
Secara umum tujuan dari konseling ini adalah untuk memfokuskan diri klien pada pertanggungjawaban dan kapasitasnya dalam rangka menemukan cara yang tepat untuk menghadapi realitas yang dihadapi klien (Corey, 1986) atau dengan kata lain membantu klien agar berkembang secara optimal sehingga mampu menjadi manusia yang berguna. (Sukardi, 1984).
Sedangkan secara terinci tujuannya adalah sebagai berikut :

1.      Membebaskan klien dari berbagai konflik psikologis yang dihadapinya.
2.      Menumbuhkan kepercayaan pada diri klien, bahwa ia memiliki kemampuan untuk mengambil satu atau serangklaian keputusan yang terbaik bagi dirinya sendiri tanpa merugikan orang lain.
3.      Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada klien untuk belajar mempercayai orang lain, dan memiliki kesiapan secara terbuka untuk menerima berbagai pengalaman orang lain yang bermanfaat bagi dirinya sendiri.
4.      Memberikan kesadaran kepada klien bahwa dirinya adalah merupakan bagian dari suatu lingkup sosial budaya yang luas, walaupun demikian ia tetap masih memiliki kekhasan atau keunikan tersendiri.
5.      Menumbuhkan suatu keyakinan kepada klien bahwa dirinya terus tumbuh dan berkembang (Process of becoming). (Sukardi. 1984)

Tujuan dari pendekatan terapi secara personal mempunyai hasil berbeda-beda pada setiap orangnya tergantung pada pendekatan masing-masing. Tujuan dari pendekatan ini agar klien dapat mendapatkan tingkat kebebasan dari yang lebih tinggi dan integritas. Metode ini difokuskan pada satu orang, tidak dengan diskusi masalah secara berkelompok. Roger (1977) tidak percaya terapi ini dapat memecahkan masalah. Sebaliknya metode ini terapi ini untuk membimbing klien agar klien dapat meningkatkan kemampuannya agar dapat memecahkan masalah sekarang dan yangg akan datang.

Roger (1961) menulis bahwa manusia yang mengikuti psikoterapi selalu bertanya ''bagaimana saya bisa menemukan jati diri saya sendri, bagamana saya bisa menjadi sesuatu yng sangat saya inginkan, bagamana saya bisa melupakan masalalu saya dan menjadi diri saya sendiri''. Tujuan yang sudah ditekankan diatas adalah untuk mendisain suatu iklim yang kondusif agar dpt membantu individu menjadi orang yang beguna. Sebelum klien bergerak menuju tujuan terapi ini mereka harus melepas topengnya terlebih dahulu, hal ini dilakukan agar mereka dapat besosialisasi dengan masyarakat. Klien datang untuk mengetahui apa yang telah hilang dari kehidupannya dengan menggunakan facades. Agar sesion terapi menjadi suatu terapi yg aman mereka harus menyadari kemungkinan-kemungkinan lain baik atau buruk.

Teknik Terapi
1.    Penekanan awal pada refleksi perasaan
Roger menekankan pada pemahaman klien, ia juga berpendapat bahwa sikap relasional therapist dengan klien merupakan jantung atau pusat dari proses perubahan tersebut. Rogers beserta lainnya mengembangkan pendekatan the person centered yang pada dasarnya adalah pernyataan ulang yang sedrhana dari apa yang dikatakan klien.
2.    Evolusi metode person centered
Filosofi the person centered di dasarkan pada asumsi bahwa klien memiliki akal untu bergerak positif tanpa bantuan konselor. Salah satu hal utama dimana person centered therapy berkembang adalah keragaman, inovasi, dan individualisasi dalam prakteknya ( cain, 2002a). cain (2002a, 2008) percaya bahwa penting bagi therapist untuk memodifikasi gaya terapi untuk mengakomodasikan kebutuhan spesifik setiap klien. Dalam jurnal yang ia tulis tentang person centered therapy, cain berkata “ pemikiran saya telah berkembang dan sekarang termasuk integrasi person centered, eksistensial, gestalt, dan konsep pengalaman serta respon terapi. Kgunaan diri saya adalah ketika saya dapat melahirkan aspek untuk memungkinkan adanya pertemeuan atauperjumpaan terhadap klien saya”. Dan hari ini yang mempraktekkan pendekatan person centered menunujukkan kemajuan baik dalam teori, prakte maupun gaya pribadi seseorang.

3.    Peran penilaian
Penilaian sering di pandang sebagai prasyarat untuk proses tritmen. Beberapa kesehatan mental menggunakan berbagai procedure penilaian termasuk diagnostic, identifikasi kekuatan klien dan kewajiban pengerjaan test. Bukan lagi jadi pertanyaan tentang apakah penting penilaian dimasukkan dalam praktek terapi tetapi tentang bagaimana melibatkan klien semaksimal mungkin dalam proses penilaian tersebut.

4.    Penerapan filosofi dari pendekatan the person centered
Pendekatan the person centered telah diterapkan untuk bekerja individu, kelompok maupun keluarga. Pendekatan the person cetered juga telah terbukti sebagai terapi yang layah dan lebih berorientasi, filosofi dasar dari the person centered memiliki penerapan untuk pendidikan SD hinga lulus.

5.    Aplikasi untuk krisis intervensi
Pendekatan the person centered terutama berlaku dalam krisis intervensi seperti kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit, peristiwa bencana dan kehilangan orang yang dicintai. Dalam krisis intervensi seseorang yang mengalaminya butuh dorongan motivasi dari orang-orang sekitarnya, kepedulian dan berusaha untuk menempatkan posisinya. Meskipun kehadira dan kontak psikologis dengan orang yang peduli dapat membawa banyak perubahan baik, namun dalam situasi tersebut seorang therapist perlu menyediakan struktur dan arah yang lebih baik.

6.    Aplikasi untuk kelompok konseling
Pendekatan the person centered menekankan peran unik dari kelompok konselor sebagai fasilitator dan bukan pemimpin. Fasilitator harus menghindari membuat komentar nterpretatif karena komentar tersebut cenderungmembuat diri kelompok sadar dan memperlihatkan proses yang terjadi.

Kelemahan dan kelebihan client-centered therapy
1.        Kelebihan pendekatan client centered therapy
a.       Pemusatan pada klien dan bukan pada therapist
b.      Identifikasi dan hubungan terapi sebagai wahana utama dalam mengubah kepribadian.
c.       Lebih menekankan pada sikap terapi daripada teknik.
d.      Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuantitatif.
e.       Penekanan emosi, perasaan, perasaan dan afektif dalam terapi
f.       Menawarkan perspektif yang lebih up-to-date dan optimis
g.       Klien memiliki pengalaman positif dalam terapi ketika mereka fokus dalam menyelesaiakan masalahnya
h.      Klien merasa mereka dapat mengekpresikan dirinya secara penuh ketika mereka mendengarkan dan tidak dijustifikasi

2.        Kekurangan Pendekatan client-centered therapy
a.      Terapi berpusat pada klien dianggap terlalu sederhana
b.      Terlalu menekankan aspek afektif, emosional, perasaan
c.       Tujuan untuk setiap klien yaitu memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas dan umum sehingga sulit untuk menilai individu.
d.      Tidak cukup sistematik dan lengkap terutama yang berkaitan dengan klien yang kecil tanggungjawabnya.
e.       Sulit bagi therapist untuk bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal.
f.        Tetapi  menjadi tidak efektif ketika konselor terlalu non-direktif dan pasif. Mendengarkan dan bercerita saja tidaklah cukup
g.      Tidak bisa digunakan pada penderita psikopatology yang parah
h.      Minim teknik untuk membantu klien memecahkan masalahnya

Contoh Aplikasi CLIENT-CENTERED
Seorang wanita usia setengah baya datang ke tempat praktek seorang psikolog karena memiliki permasalahan dengan kehidupan rumah tangganya. Penampilan wanita ini cukup unik dengan rambut berwarna dan pakaian yang serba minim. Menyikapi hal ini tentu saja psikolog tidak boleh berprasangka terlebih dahulu seperti berpikir yang tidak-tidak mengenai klien ini, hal ini merupakan aplikasi dari salah satu formulasi penting menurut Roger yaitu anggapan positif tanpa syarat, di mana terapis harus menerima keberadaan klien apa adanya tanpa pembedaan baik dan buruk. Kemudian proses wawancara sebagai instrumen utama dilakukan,  klien mulai menceritakan masalah apa yang dihadapinya. Klien ini bercerita bahwa dirinya kurang dapat menikmai kebahagiaan hidupnya lagi akibat tekanan dan beban hidup. Selama mendengarkan keluh kesah klien ini, psikolog haruslah melakukan kongruensi, menyamakan pola pikirnya dengan pola pikir klien walau mungkin tidak sesuai, dengan anggapan bahwa klien adalah orang paling ahli dalam kehidupan dan masalahnya. Selain itu empati juga perlu dilakukan, psikolog mencoba ikut masuk dan merasakan apa yang dirasakan klien melalui keluh kesahnya. Terapis menggunakan perasaannya dalam menghadapi klien, dan terapis menjadi observer menggunakan seluruh inderanya.. Proses ini harus berjalan dengan formal tetapi nyaman, dengan tetap memegang teguh etika.. Berikutnya psikolog mulai merancang program intervensi, tentu saja dengan persetujuan dan disesuaikan dengan keadaan klien, mengingat tugas psikolog / terapis adalah sebagai fasilitator pasif yang mendorong klien untuk bertanggung jawab dalam menentukan arah atau tindakannya sendiri dengan menciptakan iklim terapeutik. Program terapi yang nanti dituangkan dalam informed consent terkait frekuensi dan durasi terapi, biaya, penjadwalan, dan sebagainya. Semisal untuk intervensi kasus ini, psikolog memilih metode terapi relaksasi sehingga klien dapat memandang berbagai permasalahan dan beban hidupnya secara lebih positif dan dapat menjalaninya dengan lebih optimis. Setelah itu psikolog memberikan kata-kata penutup yang baik dan memotivasi sehingga klien dapat pulang dengan suasana hati yang lebih nyaman dan tenang.




Referensi
http://herjuno-tisnoaji.blog.ugm.ac.id/2012/03/15/client-centered-therapy/
Corey, G. (2009). Theoryand Practice Of Counseling And Psychotherapy. USA: Thomson Books.
Fadol, Ajudan. 2012. Makalah Client Centered Therapy (CCT).
Ivey, A. E., D'Andrea, M., Ivey, M. B., & Simek-Morgan, L. (2009). Theories Of Conseling Dan Psychotherapy. Canada: Pearson Education, Inc.

Selasa, 26 Maret 2013

TERAPI HUMANISTIK

Sejarah Psikologi Humanistik – Eksistensial 
              Istilah psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a third force). Meskipun tokoh-tokoh psikologi humanistik memiliki pandangan yang berbeda-beda, tetapi mereka berpijak pada konsepsi fundamental yang sama mengenai manusia, yang berakar pada salah satu aliran filsafat modern, yaitu eksistensialisme. Eksistensialisme adalah hal yang mengada-dalam dunia (being-in-the-world), dan menyadari penuh akan keberadaannya (Koeswara, 1986 : 113). Eksistensialisme menolak paham yang menempatkan manusia semata-mata sebagai hasil bawaan ataupun lingkungan. Psikologi eksistensial humanistic berfokus pada kondisi manusia. Sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia seolah-olah suatu kesatuan teknik – teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Pendekatan terapi eksistensial bukan suatu pendekatan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi – terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep – konsep dan asumsi – asumsi tentang manusia. Terapi Psikodinamik cendrung memusatkan perhatian pada proses tak sadar seperti konflik-konflik internal yang terletak diluar kesadaran. Terapi humanisitik-eksistensial juga lebih memusatkan perhatian pada apa yang dialami klien pada masa sekarang “disini dan kini” dan bukan masa lampau. Ada persamaan antara terapi psikodinamik dengan terapi-terapi humanistic eksistensial yaitu kaduanya meyakini pada peristiwa masa lampau dapat mempengaruhi tingkah laku dan perasaan individu sekarang dan keduanya juga berusaha meningkatkan pemahaman diri dan kesadaran diri klien.

Pendekatan Eksistensial-Humanistik
Pendekatan eksistensial-humanistik pada hakikatnya mempercayai bahwa individu memiliki potensi untuk secara aktif memilih dan membuat keputusan bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Pendekatan ini sangat menekankan tentang kebebasan yang bertanggung jawab. Jadi individu diberikan kebebasan seluas-luasnya dalam melakukan tindakan, tetapi harus berani bertanggung jawab sekalipun mengandung resiko bagi dirinya. Menurut Buhler dan Allen dalam Lubis (2011), seorang ahli psikologi humanistik harus memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut:
1.      Menyadari pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
2.      Menyadari peran dan tanggung jawab terapis.
3.      Mengakui adanya hubungan timbal balik dalam hubungan konseling atau terapi
4.      Konselor atau terapis harus terlibat sebagai pribadi yg menyeluruh dengan klien.
5.       Mengakui bahwa keputusan dan pilihan akhir terletak di tangan klien.
6.      Memandang konselor atau terapis sebagai model yang dapat menunjukan pada klien potensi bagi tindakan yang kreatif dan positif.
7.      Memberi kebebasan pada klien untuk mengungkapkan pandangan, tujuan, dan nilainya sendiri.
8.      Mengurangi ketergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.

Pendekatan Eksistensial-Humanistik dikembangkan oleh Victor Frankl, Rolo May, Irvin Yalom, James Bugental, dan Medars Boss. Tokoh yang dikatakan perintis awal perkembangan eksistensial-humanistik ini adalah Frankl dan May. Frankl dulunya memiliki kehidupan yang tidak menyenangkan, menderita dan banyak kepedihan. Ia adalah seorang yahudi. Saat itu adalah zaman Nazi dimana Hitler memerintahkan semua orang yahudi untuk ditahan di suatu perkemahan. Seluruh keluarga Frankl, anak dan istrinya ditahan di perkemahan tersebut, hingga akhirnya seluruh anak dan istrinya meninggal dunia. Hanya tersisa ia seorang diri. Sedangkan May memiliki latar belakang hidup yang tidak jauh berbeda dengan Frankl, yaitu kehidupan yang tidak bahagia. Sudah dua kali May gagal membina pernikahannya dan itu membuatnya sangat terpukul. Berdasarkan latar belakang kehidupan yang seperti itulah mereka kemudian menciptakan suatu teori yag kita kenal sebagi Humanistik-Eksistensial. Teori yang memandang manusia secara positif. Manusia dilihat dapat menyelesaikan masalahnya sendiri, memiliki potensi untuk berkembang dengan penuh, dan lain-lain. Hal ini merupakan kebalikan dari teori psikoanalisa yang memandang manusia secara negatife. Jadi teori mereka ini didasari oleh pengalaman hidup mereka sendiri.
Psikologi eksistensial-humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Dalam mengembangkan teorinya, psikologi eksistensial-humansistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya, secara manusiawi dengan menitik beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menetukan pilihannya, nilai-nilai tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan. Konsep-konsep utama dalam pendekatan eksistensial-humanistik adalah:
1. Kesadaran diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin besar kesadaran dirinya, maka semakin besar pula kebebasannya untuk memilih altrnatif-alternatif. Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai dengan tanggung jawab. Manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.
 2. Kebebasan, tanggung jawab dan kecemasan
Kesadaran akan kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (Nonbeing).
 3. Penciptaan Makna
Manusia berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia juga berarti  menghadapi kesendirian. Manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna. Manusia juga berusaha untuk mengaktualisasikan diri, yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Apabila gagal mengaktualisasikan dirinya, maka ia bisa menjadi "sakit"

Sasaran Terapi
Sasaran dasar dari banyak sistem terapi adalah membuat individu mampu menerima kebebasan yang menimbulkan kekaguman untuk bertindak serta bertanggung jawab yang harus dipikul atas tindakan itu. Eksistensialisme berpendapat bahwa orang tidak bisa melarikan diri dari kebebasan, dalam arti bahwa kita selalu dituntut untuk memikul tanggung jawab. Namun, kita bisa mengingkari kekbesan kita, yaitu yang merupakan ketidakotentikan akhir. Terapi eksistensial berusaha agar klien bisa keluar dari belenggu yang kuat itu dan mau menantang kecenderungan mereka yang sempit dan  bersifat memaksa, yang merupakan ganjalan dari kebebasan mereka. Meskipun proses ini memberi si individu rasa terbebas dari kungkungan dan otonomi yang bertambah, kebebasan baru ini akan berakibat timbulnya kecemasan.
Anggapan terbaik tentang terapi eksistensial adalah bahwa terapi ini merupakan undangan kepada klien untuk mengenal cara-cara untuk tidak hidup sepenuhnya otentik dan membuat pilihan yang menuntun mereka hidup yang patut dan menjadi makhluk yang bekemampuan. Pendekatan ini tidak berfokus pada mengobati penyakit atau pengaplikasian teknik problem­-solving untuk bisa melakukan tugas yang kompleks demi terlaksananya kehidupan otentik.
            Tugas eksistensial terapi adalah mengajar klien mendengarkan apa yang telah mereka ketahui tentang diri mereka sendiri, meskipun mereka mungkin tidak memperhatikan apa yang telah mereka ketahui.

Prosedur dan Teknik Terapi
Menurut Baldwin (1987), inti dari terapi ini adalah penggunaan pribadi terapi
  1. Kapasitas Untuk Sadar Akan Dirinya : Implikasi Konseling. 
Meningkatkan kesadaran diri, yang mencakup kesadaran akan adanya alternative, motivasi, factor yang mempengaruhi seseorang dan tujuan hidup pribadi, merupakan sasaran dari semua konseling. Adalah tugas terapis untuk menunjukkan kepada klien bahwa peningkatan kesadaran memerlukan imbalan.

  1. Kebebasan dan Tanggung Jawab : Implikasi Konseling. 
Terapis eksistensial terus-menerus mengarahkan fokus pada pertanggungjawaban klien atas situasi mereka. Mereka tidak membiarkan klien menyalahkan orang lain, menyalahkan kekuatan dari luar, ataupun menyalahkan bunda mengandug. Apabila klien tidak mau mengakui dan menerima pertanggungjawaban bahwa sebenarnya mereka sendirilah yang menciptakan situasi yang ada, maka sedikit saja motivasi mereka untuk ikut terlibat dalam usaha perubahan pribadi (May & Yalom, 1989; Yalom 1980). 

Terapis membantu klien dalam menemukan betapa mereka telah menghindari kebebasan dan membangkitkan semangat mereka untuk belajar mengambil resiko dengan menggunakan kebebasan itu. Kalau tidak berbuat seperti itu berarti klien tak mampu berjalan dan secara neurotik menjadi tergantung pada terapis.

Terapis perlu mengajarkan klien bahwa secara eksplisit mereka menerima fakta bahwa mereka memiliki pilihan, meskipun mereka mungkin selama hidupnya selalu berusaha untuk menghindarinya.

  1. Usaha Untuk Mendapatkan Identitas dan Bisa Berhubungan Dengan Orang Lain : Implikasi Konseling. 
Bagian dari langkah terapeutik terdiri dari tugasnya untuk menantang klien mereka untuk mau memulai meneliti cara dimana mereka telah kehilangan sentuhan identitas mereka, terutama dengan jalan membiarkan orang lain memolakan hidup bagi mereka. Proses terapi itu sendiri sering menakutkan bagi klien manakala mereka melihat kenyataan bahwa mereka telah menyerahkan kebebasan mereka kepada orang lain dan bahwa dalam hubungan terapi mereka terpaksa menerima kembali. Dengan jalan menolak untuk memberikan penyelesaian atau jawaban yang mudah maka terapis memaksa klien berkonfrontasi dengan realitas yang hanya mereka sendiri yang harus bisa menemukan jawaban mereka sendiri.

  1. Pencarian Makna : Implikasi Konseling. 
Berhubungan dengan konsep ketidakbermaknaan adalah apa yang oleh pratis eksistensial disebut sebagai kesalahan eksistensial. Ini adalah kondisi yang tumbuh dari perasaan ketidaksempurnaan atau kesadaran akan kenyataan bahwa orang ternyata tidak menjadi siapa dia seharusnya. Ini adalah kesadaran bahwa tindakan serta pilihan sesorang mengungkapkan kurang dari potensi sepenuhnya yang dimilikinya sebagai pribadi. Manakala orang mengabaikan potensi-potensi tertentu yang dimiliki, maka tentu ada perasaan kesalahan eksistensial ini. Beban kesalahan ini tidak dipandang sebagai neurotik, juga bukan sebagai gejala yang memerlukan penyembuhan. Yang dilakukan oleh terapis eksistensial adalah menggalinya untk mengetahui apa yang bisa dipelajari klie tentang cara mereka menjalani kehidupan. Dan ini bisa digunakan untuk menantang kehadiran makna dan arah hidup.
  1. Kecemasan Sebagai Kondisi Dalam Hidup : Implikasi Konseling. 
Kecemasan merupakan materi dalam sesi terapi produktif. Kalau klien tidak mengalami kecemasan maka motivasi untuk mengalami perubahan menjadi rendah. Jadi, terapis yang berorientasi eksistensial dapat menolong klien mengenali bahwa belajar bagaimana bertenggang rasa dengan keragu-raguan dan ketidakpastian dan bagaimana caranya hidup tanpa ditopang bisa merupakan tahap yang perlu dialami daam perjalanan dari hidup yang serba tergantung kea lam kehidupan sebagai manusia yang lebih autonom. Terapis dan klien dapat menggali kemungkinan yang ada, yaitu bahwa melepaskan diri dari pola yang tidak sehat dan membangun gaya hidup baru bisa disertai dari pola yang tidak sehat dan membangun gaya hidup baru bisa berkurang pada saat klien mengalami hal-hal yang ebih memuaskan dengan cara-cara hidup yang lebih baru. Maakala klien menjadi lebih percaya diri maka kecemasan mereka sebagai akibat dari ramalan-ramalan akan datangnya bencana akan menjadi berkurang.

  1. Kesadaran Akan Maut dan Ketiadaan : Implikasi Konseling. 
Latihan dapat memobilisasikan klien untuk secara sungguh-sungguh memantapkan waktu yang masih mereka miliki, dan ini bisa menggugah mereka untuk mau menerima kemungkinan bahwa mereka bisa menerima keberadaannya sebagai mayat hidup sebagai pengganti kehidupan yang lebih bermakna.

Kelebihan Terapi Humanistik-Eksistensial
  1. Teknik ini dapat digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan dan kepercayaan diri;
  2. Adanya kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri;
  3. Memanusiakan manusia.

Kelemahan Terapi Humanistik-Eksistensial
  1. Dalam metodologi, bahasa dan konsepnya yang mistikal;
  2. Dalam pelaksanaannya tidak memiliki teknik yang tegas;
  3. Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya (keputusan ditentukan oleh klien sendiri);
  4. Memakan waktu lama.

Sumber :

Semiun,Yustinus.(2006). Kesehatan mental 3. Kanisius: Yogyakarta

Feist, Jess dan Feist, Gregory. (2010). Teori Kepribadian. New York: Salemba Humanika

Corey, Gerald. (1996). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. USA: Brooks Cole

Lubis, Lumongga Namora. (2011). Memahami Dasar-Dasar Konseling dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Corey, G. (1995). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Semarang : PT IKIP Semarang Press

Sabtu, 16 Maret 2013

Terapi Psikoanalisa


Psikoanalisis san Tokoh     
Psikoanalisis adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia dan metode psikoterapi. Terapi psikonalisis adalah suatu terapi yang diciptakan dan dikembangkan oleh Sigmund Freud (6 Mei 1856 - 23 September 1939)dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia.  Pada mulanya istilah psikoanalisis hanya dipergunakan dalam hubungan dengan Freud saja, sehingga "psikoanalisis" dan "psikoanalisis" Freud sama artinya. Bila beberapa pengikut Freud dikemudian hari menyimpang dari ajarannya dan menempuh jalan sendiri-sendiri, mereka juga meninggalkan istilah psikoanalisis dan memilih suatu nama baru untuk menunjukan ajaran mereka. Contoh yang terkenal adalah Carl Gustav Jung dan Alfred Adler, yang menciptakan nama "psikologi analitis" dan "psikologi individual"  bagi ajaran masing-masing.
Psikoanalisis memiliki tiga penerapan :
  1. suatu metoda penelitian dari pikiran.
  2. suatu ilmu pengetahuan sistematis mengenai perilaku manusia.
  3. suatu metoda perlakuan terhadap penyakit psikologis atau emosional
     Menurut freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar (en:conscious), prasadar (en:preconscious), dan tak-sadar (unconscious). Aliran psikoanalisis Freud merujuk pada suatu jenis perlakuan dimana orang yang dianalisis mengungkapkan pemikiran secara verbal, termasuk asosiasi bebas, khayalan, dan mimpi, yang menjadi sumber bagi seorang penganalisis merumuskan konflik tidak sadar yang menyebabkan gejala yang dirasakan dan permasalahan karakter pada pasien, kemudian menginterpretasikannya bagi pasien untuk menghasilkan pemahaman diri untuk pemecahan masalahnya.

   
 Teknik terapi Psikoanalisis
      Beberapa teknik terapi dari psikoanalisis, antara lain:
1. Asosiasi Bebas, merupakan teknih sentral dari psikoanalisis. Esensinya adalah bahwa klien melaju bersama pikirannya ataupun pendapat dengan jalan serta melaporkannya tanpa ada sensor. Asosiasi merupakan salah satu dari peralatan dasar sebagai pembuka pintu keinginan, khayalan, konflik, serta motivasi yng tidak disadari. (Corey, 1995; 174)

2. Interpretasi, terdiri dari apa yang oleh penganalisis dinaytakan, diterangkan, dan bahkan diajarkan kepada klien arti dari perilaku yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, penentangan dan hubungan teraupetik itu sendiri. Fungsinya adalah memberi peluang kepada ego untuk mengasimilasikan materi baru dan dan untuk memprcepat proses menguak materi diluar kesadaran selanjutnya (Corey, 1995; 174).

3. Analisis mimpi merupakan prosedur yang penting untuk bisa mengungkapkan materi tidak disadari dan untuk bisa memberi klien suatu wawasan ke dalam kawasan problem yang tak terselesaikan (Corey, 1995; 175)

4. analisis resistensi ditujukkan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya resistensinya konselor meminta klien menafsirkan resistensi (Willis, 2004: 63).

5. analisis transferensi. Konselor mengusakan klien mengembangkan transferensinya agar terungkap neorosisnya terutama pada usia selama lima tahun pertama dalam hidupnya. Konselor menggunakan sifat0sifat netral, objektif, anonim, dan pasif agar agar terungkap transferensi tersebut (Willis, 2004: 63)

Aplikasi Teori dalam Konseling
1. ”Manusia adalah Makhluk yang Memiliki Kebutuhan dan Keinginan”.
Konsep ini dapat dikembangkan dalam proses bimbingan, denganmelihat hakikatnya manusia itu memiliki kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan dasar. Dengan demikian konselor dalam memberikan bimbingan harus selalu berpedoman kepada apa yang dibutuhkan dan yang diinginkan oleh konseli, sehingga bimbingan yang dilakukan benar-benar efektif.

2. “Kecemasan” yang dimiliki manusia dapat digunakan sebagai wahana pencapaian tujuan bimbingan, yakni membantu individu supaya mengerti dirinya dan lingkungannya; mampu memilih, memutuskan dan merencanakan hidup secara bijaksana; mampu mengembangkan kemampuan dan kesanggupan, memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya; mampu mengelola aktivitasnya sehari-hari dengan baik dan bijaksana; mampu memahami dan bertindak sesuai dengan norma agama, sosial, dalam masyarakat.

3. Dengan demikian kecemasan yang dirasakan akibat ketidakmampuannya dapat diatasi dengan baik dan bijaksana. Karena setiap manusia selalu hidup dalam kecemasan, kecemasan karena manusia akan punah, kecemasan karena tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan dll,

4. Bimbingan merupakan wadah dalam rangka mengatasi kecemasan.

5. Pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalanan manusia.
Walaupun banyak para ahli yang mengkritik, namun dalam beberapa hal konsep ini sesuai dengan konsep pembinaan dini bagi anak-anak dalam pembentukan moral individual. Dalam sistem pemebinaan akhlak individual, keluarga dapat melatih dan membiasakan anakanaknya agar dapat tumbuh berkembang sesuai dengan norma agama dan sosial. Norma-norma ini tidak bisa datang sendiri, akan tetapi melalui proses interaksi yang panjang dari dalam lingkungannya. Bila sebuah keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan akan tumbuh menjadi manusia yang baik. 6. “Tahapan Perkembangan Kepribadian Individu” dapat digunakan dalam proses bimbingan, baik sebagai materi maupun pendekatan. Konsep ini memberi arti bahwa materi, metode dan pola bimbingan harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kepribadian individu, karena pada setiap tahapan itu memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Oleh karena itu konselor yang melakukan bimbingan haruslah selalu melihat tahapan-tahapan perkembangan ini, bila ingin bimbingannya menjadi efektif.
6. “Ketidaksadaran” dapat digunakan dalam proses bimbingan yang dilakukan pada individu dengan harapan dapat mengurangi impulsimpuls dorongan Id yang bersifat irrasional sehingga berubah menjadi rasional.
  
Tujuan Terapi
1. Membuat tidak sadar menjadi sadar;
2. Mengatasi tahap-tahap perkembangan tidak terpecahkan
3. Membantu klien belajar dan mengatasi dabn menyesuaikan
4. Rekonstruksi kepribadian.
 
      Intervensi khusus dari seorang penganalisis biasanya mencakup mengkonfrontasikan dan mengklarifikasi mekanisme pertahanan, harapan, dan perasaan bersalah. Melalui analisis konflik, termasuk yang berkontribusi terhadap daya tahan psikis dan yang melibatkan tranferens kedalam reaksi yang menyimpang, perlakuan psikoanalisis dapat mengklarifikasi bagaimana pasien secara tidak sadar menjadi musuh yang paling jahat bagi dirinya sendiri: bagaimana reaksi tidak sadar yang bersifat simbolis dan telah distimulasi oleh pengalaman kemudian menyebabkan timbulnya gejala yang tidak dikehendaki. Terapi dihentikan atau dianggap selesai saat pasien mengerti akan kenyataan yang sesungguhnya, alasan mengapa mereka melakukan perilaku abnormal, dan menyadari bahwa perilaku tersebut tidak seharusnya mereka lakukan, lalu mereka sadar untuk menghentikan perilaku itu
Kelebihan Dan Kekurangan Terapi Psikoanalisis
Kelebihan
·        Terapi ini memiliki dasar teori yang kuat.
·    Dengan terapi ini terapis bisa lebih mengetahui masalah pada diri klien, karena prosesnya dimulai dari mencari tahu pengalaman-pengalaman masa lalu pada diri klien.
·        Terapi ini bisa membuat klien mengetahui masalah apa yang selama ini tidak disadarinya.

Kekurangan
·         Waktu yang dibutuhkan dalam terapi terlalu panjang
·         Memakan banyak biaya bagi klien
·         Karena waktunya lama, bisa membuat klien menjadi jenuh
·         Diperlukan terapis yang benar-benar terlatih untuk melakukan terapi

Sumber :
Suryabrata, S. (2000). Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 
Bertens, K. (2006). Psikoanalisis Sigmund Freud. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 
Moore dan Fine. (1968). a Glossary of Psychoanalytic Terms and Concepts.
Ciccarelli, S. K., White, N. J. (200). Psychology. New Jersey: Pearson 
Alwisol. (2008). Psikologi Kepribadian. Malang: UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah. 
Kramer, G.P., et all. (2010). Introduction to Clinical Psychology (7th ed). New Jersey: Pearson.
http://residivis-champus.blogspot.com/2011/06/terapi-psikoanalisa.html